Hai, semua selamat berkabar. hari ini mungkin bukan hari
pertama saya menulis. Karena sejak kecil saya sudah diajari menulis tetapi
tidak suka dengan yang namanya menulis. Tapi hari ini adalah hari pertama
dimana saya menulis didalam sebuah blog yang bahkan sesudah tulisan ini saya
buat, saya belum mengerti tentang yang namanya blog. Iseng-iseng saya ini
tertarik untuk membuat blog karena terbesit dalam pikiran saya bahwa sepertinya
hal-hal unik yang saya alami perlu saya abadikan. Mengingat kepikunan saya yang
semakin hari semakin memperkosa saya, halah.
Hari ini adalah tepat satu hari dimana kemarin saya membeli
novel “Madre” karya mbak Dewi Lestari atau yang lebih membahana ketika
disebut Dee. Entah kenapa lagi, disaat
saya sedang bokek, setelah berhasil keluar dari bencana ban gundul yang menimpa
motor saya yang semakin hari semakin semakin pokoknya, tiba-tiba untuk pertama
kalinya saya tertarik untuk membeli novel tersebut. Sebenarnya saya ini bukan
orang yang suka membaca pula. Tapi setelah lama menyusuri Perahu Kertas yang
dilarungkan oleh mbak Dee, saya merasa seperti terbawa arus masuk dimensi yang
lain. Saya mendapati adanya dunia lain diantara dunia-dunia yang lain pula.
Bukannya dunia gaib loh, ini adalah dunia imajinasi, dunia imajinasi saya, dimana
saya bisa bebas tanpa terpaut oleh aturan yang terus diproduksi dan
direproduksi oleh manusia. Ini adalah dunia bebas, semua orang bebas untuk
bebas. Tau nggak maksudnya? Enggak kan? Sama. Pikiran saya langsung terjungkal
ketika saat tulisan ini sedang saya produksi, tiba-tiba terdengar suara gadis
cantik menawan aduhai mempesona memanggil-manggil nama saya. Aduh, ternyata dia
adalah tetangga saya yang ramah tamah halah-halah. Datang mau pinjem charger
laptop yang dimana secara bersamaan, baterai laptop saya sedang mengalami
gejala seruapa anemia, sehingga saya harus cepat-cepat menyelesaikan tulisan
ini sebelum semuanya berakhir tanpa ending yang saya harapkan.
Oke nglatuuurr lagi, kita lanjutkan modus curhatnya yak.
Madre! Yah, seperti apa yang telah saya twet kan di tweter saya. Membaca novel
untuk pertama kalinya ini saya merasa seperti memasuki sekolah baru. Terlalu
banyak pertanyaan yang tak terjawab. Saya terlalu sibuk karena banyaknya
kekaguman yang bergentayangan diotak pikun saya ini. Mulanya saya mengira jika
membaca novel ini ndak bakal bikin saya seneng. Saya juga sempat berfikir jika
saya ndak akan pernah, untuk selama-lamanya, walau sampai ajal menjemputpun,
halah, saya ndak akan pernah bisa memahami setiap bait-bait yang di goreskan rapi
berjajar di dalam bidang-bidang kertas yang bau itu. Saya juga ndak habis fikir
jika hanya dengan membaca, saya bisa mengerti tentang apa yang dikatakan oleh
si penulis dalam goresan-goresan aneh itu, iya, sangat aneh untuk beberapa juta
abad yang lalu. Kalo sekarang sih enggak.
DuarRRR!!! Bak kesamber petir meeennn!!!, setelah saya
membacanya tadi petang (malam maksudnya) bak terkena santet saya lagsung
kejang-kejang saking senengnya. Ternyata dalam otak yang mulai pikun ini,
pikiran saya masih bisa berjalan bebas, malahan bisa bebas melayang-layang,
berputar-putar seperti pesawat yang nggak bisa landing, halah. Ndak tau lah.
Saya piker inilah seni ya men, seperti biasa, menurut saya seni itu adalah
hasil karya sesorang yang bisa dinikmati oleh orang lain, entah bermakna
seperti apa yang si pencipta siratkan, maupun bermakna sendiri bagi orang lain
yang menikmatinya. This is seni meeen!!!! Sennniiiiningaaann!!! Iya seniningan
atau ceniningan. Itu bahasa Jawa yang kalau diIndonesiakan menjadi “tidak beraturan”.
Iyah, saya katakan seniningan karena membuat pikiran saya menjadi tidak
beraturan. Melayang kesana kemari membawa alamat,,, jreng jreng!!! Haha,
lagunya Aku Sinting.
Oke. Kembali ke pokok permasalahan!!!! Sebenarnya, tulisan
ini memang mempunyai permasalahan sih, tetapi enggak ada yang pokok kok. Nah,
lo. Gue berasa autis sendiri nih men. Iya, tapi kalo ndak autis, ndak mungkin
juga kan tulisan sekeren ini, cethar membahasa bergelimang harta, halah, bisa
muncul secara tiba-tiba dan tiba dari otak pikun ini ke hadapan anda.
Disini saya hanya akan sedikit berbicara tentang sebuah
novel yang berjudul “Madre” sebagai sebuah novel tanda pertemanan saya dengan
dunia tulisan dan imajinasi. Bagi saya selaku pemula, menemukan novel seperti
“Madre” ini bak mendapatkan harta karun yang telah lama hilang terpendam
ditelan bumi. Yah, butuh beberapa waktu bagi saya untuk menemukan novel yang
bebas dipasaran ini, mungkin juga banyak dari kalian yang sudah mengenalnya jauh
lebih lama dari pada saya. Mencari novel ini bak mencari seorang pacar bagi
saya. Saya harus kepo kesana-kemari di dunia maya ketika ada sesuatu yang
terbesit mengganjal dipikiran saya. Nafsu, yah. Saya anggap ini sebagai nafsu
karena muncul tiba-tiba dan tidak saya duga, terlebih tidak saya inginkan. Sebelumnya
saya ndak tahu novel apa yang ingin saya cari, tetapi insting saya menuntun
saya untuk mencari Novel yang bernama “Madre” ini setelah banyak sumber tentang
novel-novel murah berkualitas yang saya cari, yah terbilang murah karena saya
sedang bokek.
Kenapa saya mencari novel? yah, Cuma, karena saya terlalu hanyut
dalam demensinya mbak Dee sehingga muncul dalam jati diri yang kosong ini
keinginan untuk melakukan hal yang sama. Berimajinasi! Yah, saya ingin
berimajinasi. Saya juga merasa perlu bimbingan dalam berimajinasi sehingga saya
memutuskan untuk mencari novel berjudul “Madre” ini sebagi pedoman langkah
bertama saya dalam dunia imajinasi ini. Nantinya saya berharap agar imajinasi
saya ini bisa tersirat dan dipahami secara suka oleh para penikmat lembaran
kertas bernoda, halah.
Imajinasi mungkin akan menjadi solusi bagi kita semua ketika
kita terlalu lelah dan bosan dengan apa saja yang terjadi di dunia ini. Saya
rasa kita akan merasa lebih nyaman ketika berada ditempat yang kita inginkan.
Yah, jika realita tidak meng-ACC harapan kita. Sekiranya imajinasi akan menjadi
tepat yang lebih baik untuk kita menyandarkan harapan dan sejenak melepaskan
beban.
Sebelum tulisan ini saya akhiri dengan akhiran yang tidak
jelas. Saya sangat berterimakasih kepada siapa saja, adik, kaka, embak, mas,
bapak, ibuk, embah atau siapalah yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik,
terimaksih telah menyempatkan berkunjung ke blog saya ini dan bersedia sekedar
membaca tulisan saya. Saya ini hanya pemula, jadi sangatlah berbahagia jika
kalian semua bersedia berbagi ilmu pengetahuan dan wawasan kepada saya. Saya
tahu dunia maya ini memang dunia lain, kata lain berarti menandakan adanya
keunikan. Yah, saya tahu disini ada banyak orang-orang unik yang bisa saya
temui untuk berteman dengan saya. Haha, modus pencari persahabatan.
Maaf jika tulisan yang tidak cetha membahana ini tidak
berarti bagi kalian. Tulisan ini hanyalah tulisan pengantar bagi saya ketika
memasuki dunia blog setelah bebrapa hari hanyut dalam dunia imajinasi. Sekiranya
ini menjadi hiburan yang sangat menarik bagi saya ketika saya sedang
dipusingkan dengan Ujian Sekolah yang membosankan, sangat membosankan.
Sebelum saya cukupi perbincangan lintas waktu kali ini, ada
sepercik ungkapan yang ingin saya siratkan. Seperti yang di katakan oleh mbak
Dewi Dee Lestari yang tersirat dalam novel Madre “jawaban hanyalah persinggahan
dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita, namun
pertanyaanlah yang membuat kita terus maju”. Jadi dengan awal tulisan yang
tidak jelas dan sangat membingungkan ini, saya berharap agar
pertanyaan-pertanyaan baru akan terus hadir sehingga semua ini bisa terus hidup
dan berkembang layaknya adonan biang roti yang dipelihara.
NB: LowBat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar