Senin, 14 Januari 2013

tes perkenalan

Hai, semua selamat berkabar. hari ini mungkin bukan hari pertama saya menulis. Karena sejak kecil saya sudah diajari menulis tetapi tidak suka dengan yang namanya menulis. Tapi hari ini adalah hari pertama dimana saya menulis didalam sebuah blog yang bahkan sesudah tulisan ini saya buat, saya belum mengerti tentang yang namanya blog. Iseng-iseng saya ini tertarik untuk membuat blog karena terbesit dalam pikiran saya bahwa sepertinya hal-hal unik yang saya alami perlu saya abadikan. Mengingat kepikunan saya yang semakin hari semakin memperkosa saya, halah.
Hari ini adalah tepat satu hari dimana kemarin saya membeli novel “Madre” karya mbak Dewi Lestari atau yang lebih membahana ketika disebut  Dee. Entah kenapa lagi, disaat saya sedang bokek, setelah berhasil keluar dari bencana ban gundul yang menimpa motor saya yang semakin hari semakin semakin pokoknya, tiba-tiba untuk pertama kalinya saya tertarik untuk membeli novel tersebut. Sebenarnya saya ini bukan orang yang suka membaca pula. Tapi setelah lama menyusuri Perahu Kertas yang dilarungkan oleh mbak Dee, saya merasa seperti terbawa arus masuk dimensi yang lain. Saya mendapati adanya dunia lain diantara dunia-dunia yang lain pula. Bukannya dunia gaib loh, ini adalah dunia imajinasi, dunia imajinasi saya, dimana saya bisa bebas tanpa terpaut oleh aturan yang terus diproduksi dan direproduksi oleh manusia. Ini adalah dunia bebas, semua orang bebas untuk bebas. Tau nggak maksudnya? Enggak kan? Sama. Pikiran saya langsung terjungkal ketika saat tulisan ini sedang saya produksi, tiba-tiba terdengar suara gadis cantik menawan aduhai mempesona memanggil-manggil nama saya. Aduh, ternyata dia adalah tetangga saya yang ramah tamah halah-halah. Datang mau pinjem charger laptop yang dimana secara bersamaan, baterai laptop saya sedang mengalami gejala seruapa anemia, sehingga saya harus cepat-cepat menyelesaikan tulisan ini sebelum semuanya berakhir tanpa ending yang saya harapkan.
Oke nglatuuurr lagi, kita lanjutkan modus curhatnya yak. Madre! Yah, seperti apa yang telah saya twet kan di tweter saya. Membaca novel untuk pertama kalinya ini saya merasa seperti memasuki sekolah baru. Terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Saya terlalu sibuk karena banyaknya kekaguman yang bergentayangan diotak pikun saya ini. Mulanya saya mengira jika membaca novel ini ndak bakal bikin saya seneng. Saya juga sempat berfikir jika saya ndak akan pernah, untuk selama-lamanya, walau sampai ajal menjemputpun, halah, saya ndak akan pernah bisa memahami setiap bait-bait yang di goreskan rapi berjajar di dalam bidang-bidang kertas yang bau itu. Saya juga ndak habis fikir jika hanya dengan membaca, saya bisa mengerti tentang apa yang dikatakan oleh si penulis dalam goresan-goresan aneh itu, iya, sangat aneh untuk beberapa juta abad yang lalu. Kalo sekarang sih enggak.
DuarRRR!!! Bak kesamber petir meeennn!!!, setelah saya membacanya tadi petang (malam maksudnya) bak terkena santet saya lagsung kejang-kejang saking senengnya. Ternyata dalam otak yang mulai pikun ini, pikiran saya masih bisa berjalan bebas, malahan bisa bebas melayang-layang, berputar-putar seperti pesawat yang nggak bisa landing, halah. Ndak tau lah. Saya piker inilah seni ya men, seperti biasa, menurut saya seni itu adalah hasil karya sesorang yang bisa dinikmati oleh orang lain, entah bermakna seperti apa yang si pencipta siratkan, maupun bermakna sendiri bagi orang lain yang menikmatinya. This is seni meeen!!!! Sennniiiiningaaann!!! Iya seniningan atau ceniningan. Itu bahasa Jawa yang kalau diIndonesiakan menjadi “tidak beraturan”. Iyah, saya katakan seniningan karena membuat pikiran saya menjadi tidak beraturan. Melayang kesana kemari membawa alamat,,, jreng jreng!!! Haha, lagunya Aku Sinting.
Oke. Kembali ke pokok permasalahan!!!! Sebenarnya, tulisan ini memang mempunyai permasalahan sih, tetapi enggak ada yang pokok kok. Nah, lo. Gue berasa autis sendiri nih men. Iya, tapi kalo ndak autis, ndak mungkin juga kan tulisan sekeren ini, cethar membahasa bergelimang harta, halah, bisa muncul secara tiba-tiba dan tiba dari otak pikun ini ke hadapan anda.
Disini saya hanya akan sedikit berbicara tentang sebuah novel yang berjudul “Madre” sebagai sebuah novel tanda pertemanan saya dengan dunia tulisan dan imajinasi. Bagi saya selaku pemula, menemukan novel seperti “Madre” ini bak mendapatkan harta karun yang telah lama hilang terpendam ditelan bumi. Yah, butuh beberapa waktu bagi saya untuk menemukan novel yang bebas dipasaran ini, mungkin juga banyak dari kalian yang sudah mengenalnya jauh lebih lama dari pada saya. Mencari novel ini bak mencari seorang pacar bagi saya. Saya harus kepo kesana-kemari di dunia maya ketika ada sesuatu yang terbesit mengganjal dipikiran saya. Nafsu, yah. Saya anggap ini sebagai nafsu karena muncul tiba-tiba dan tidak saya duga, terlebih tidak saya inginkan. Sebelumnya saya ndak tahu novel apa yang ingin saya cari, tetapi insting saya menuntun saya untuk mencari Novel yang bernama “Madre” ini setelah banyak sumber tentang novel-novel murah berkualitas yang saya cari, yah terbilang murah karena saya sedang bokek.
Kenapa saya mencari novel? yah, Cuma, karena saya terlalu hanyut dalam demensinya mbak Dee sehingga muncul dalam jati diri yang kosong ini keinginan untuk melakukan hal yang sama. Berimajinasi! Yah, saya ingin berimajinasi. Saya juga merasa perlu bimbingan dalam berimajinasi sehingga saya memutuskan untuk mencari novel berjudul “Madre” ini sebagi pedoman langkah bertama saya dalam dunia imajinasi ini. Nantinya saya berharap agar imajinasi saya ini bisa tersirat dan dipahami secara suka oleh para penikmat lembaran kertas bernoda, halah.
Imajinasi mungkin akan menjadi solusi bagi kita semua ketika kita terlalu lelah dan bosan dengan apa saja yang terjadi di dunia ini. Saya rasa kita akan merasa lebih nyaman ketika berada ditempat yang kita inginkan. Yah, jika realita tidak meng-ACC harapan kita. Sekiranya imajinasi akan menjadi tepat yang lebih baik untuk kita menyandarkan harapan dan sejenak melepaskan beban.
Sebelum tulisan ini saya akhiri dengan akhiran yang tidak jelas. Saya sangat berterimakasih kepada siapa saja, adik, kaka, embak, mas, bapak, ibuk, embah atau siapalah yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, terimaksih telah menyempatkan berkunjung ke blog saya ini dan bersedia sekedar membaca tulisan saya. Saya ini hanya pemula, jadi sangatlah berbahagia jika kalian semua bersedia berbagi ilmu pengetahuan dan wawasan kepada saya. Saya tahu dunia maya ini memang dunia lain, kata lain berarti menandakan adanya keunikan. Yah, saya tahu disini ada banyak orang-orang unik yang bisa saya temui untuk berteman dengan saya. Haha, modus pencari persahabatan.
Maaf jika tulisan yang tidak cetha membahana ini tidak berarti bagi kalian. Tulisan ini hanyalah tulisan pengantar bagi saya ketika memasuki dunia blog setelah bebrapa hari hanyut dalam dunia imajinasi. Sekiranya ini menjadi hiburan yang sangat menarik bagi saya ketika saya sedang dipusingkan dengan Ujian Sekolah yang membosankan, sangat membosankan.
Sebelum saya cukupi perbincangan lintas waktu kali ini, ada sepercik ungkapan yang ingin saya siratkan. Seperti yang di katakan oleh mbak Dewi Dee Lestari yang tersirat dalam novel Madre “jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita, namun pertanyaanlah yang membuat kita terus maju”. Jadi dengan awal tulisan yang tidak jelas dan sangat membingungkan ini, saya berharap agar pertanyaan-pertanyaan baru akan terus hadir sehingga semua ini bisa terus hidup dan berkembang layaknya adonan biang roti yang dipelihara.
NB: LowBat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar